Dapat Soetandyo Awards, Ini Kisah Akhol Perjuangkan Hak Minoritas Agama


Surabaya – Di tahun ini, Soetandyo FISIP Unair Awards menganugerahkan penghargaan untuk Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung, Akhol Firdaus. Akhol disebut aktif dalam memperjuangkan hak penganut agama minoritas.

Sebelumnya, Soetandyo FISIP Unair Awards merupakan ajang penghargaan bagi setiap tokoh yang menjadi inspirasi dalam menularkan semangat Prof Soetandyo untuk memberi manfaat kepada bangsa dan negara. Prof Soetandyo merupakan Dekan pertama di FISIP Unair.

“Tahun 2019 yang kelima, diberikan kepada pejuang dari nilai nilai yang selalu dipakai pak Soetandyo yaitu menjunjung tinggi pluralism, keadilan, dan demokratisasi,” papar Dekan FISIP Unair Falih Suaedi di Surabaya, Sabtu (19/10/2019).

“Tahun ini kita sepakat untuk memberikan kepada kaum muda karena ke depan kita berinvestasi untuk tokoh muda dan dia bisa masuk ke entitas kaum milenial, dan kaum milenial ini calon pemimpin masa depan,” imbuhnya.

Sementara itu, Akhol jutru mengaku tidak pantas menerima penghargaan ini. Dia menyebut apa yang dilakukannya murni karena ingin memperjuangkan apa yang menurutnya kurang pantas.

“Saya tidak merasa pantas menerima sebenarnya tapi mungkin saya dipertimbangkan karena dalam rentang waktu yang agak panjang saya terlibat dalam advokasi minoritas agama keyakinan di Indonesia. Sejak 2008 sebenarnya saya intens dalam pemantauan isu KPP, terutama di Jawa Timur yang lalu menghasilkan berbagai laporan tentang situasi keberagaman pelanggaran Hak agama di Indonesia,” paparnya.

Hingga kini, Akhol mengaku banyak penghayat kepercayaan hingga penganut agama minoritas di Indonesia yang masih mendapat diskriminasi dari pemerintah dan masyarakat. Padahal menurutnya, hal ini tak perlu dilakukan karena setiap orang memiliki hak yang sama dalam beragama dan berkeyakinan.

“Mulai 2013 saya memang memfokuskan perhatian saya pada isu penghayat kepercayaan. Kalangan penghayat menurut saya, ini lah kelompok agama keyakinan yang merasakan mata rantai diskriminasi paling serius di Indonesia,” ungkap Akhol.

“Saya sering menyebut bahwa usia diskriminasi terhadap penghayat itu hampir seusia Republik Indonesia jadi dari rezim ke rezim, mereka mendapat perlakuan yang sama,” imbuhnya.

Untuk itu, Akhol mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk tetap memanusiakan manusia. Hal ini diharapkan akan menghapuskan diskriminasi yang terjadi di Indonesia.

“Diskriminasi yang berlangsung masif, sistematis itu lalu menghasilkan situasi saya menyebutnya genosida kelompok kepercayaan agama lokal. Jadi dalam rentang waktu yang sangat panjang itu mereka hampir mengalami kepunahan baik secara organisasi atau paguyuban maupun penganut kepercayaan itu sendiri,” lanjutnya.

Hingga kini, tambah Akhol, masih banyak ditemui para penghianat kepercayaan yang mendapat perlakuan diskriminatif.

“Ini mencatat ada ratusan pelanggaran ada banyak sekali kelompok yang dipersekusi. Ada kelompok syiah yang sampai sekarang belum pulih masih hidup di pengungsian, ada kelompok Ahmadiyah di transito yang juga sampai sekarang belum dipulihkan. Terutama ada ratusan penghayat kepercayaan dan agama lokal yang sejak awal berdiri memang tidak pernah diambil (diakui) keberadaannya,” pungkasnya.
(hil/iwd)

sc: https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4752218/dapat-soetandyo-awards-ini-kisah-akhol-perjuangkan-hak-minoritas-agama